Obrolan di ‘warung donat’
by Biyung Nana
Suatu sore sepulang dari kantor saya dan seorang sahabat wanita pergi untuk sekedar ngopi2 disebuah ‘warung donat’ di MBG. Kami memesan lalu kemudian duduk di sebuah sofa dekat pintu keluar. Kami leluasa melihat orang berlalu lalang memasuki ‘warung’ ini. Di sudut kanan kami terlihat seorang Bapak paruh baya sedang duduk menikmati donat bersama 7 orang wanita duduk mengitarinya. 2 orang di samping kiri, seorang lagi disamping kanan dan sisanya duduk berhadapan dengan si Bapak tersebut. Saya dan sahabat hanya saling menatap lalu tersenyum. “hehe.. ada raja minyak tuh” celetuk saya. Tak lama kemudian muncul seorang pria berambut panjang yang di cat blonde. Ah, ternyata orang salon langganan saya. Saya selalu mempercayakan potongan rambut saya padanya. Dia menghampiri sang raja minyak dan melambaikan tangan pada kami berdua, saya hanya tersenyum. Tak berapa lama dia mendatangi kami, ngobrol sebentar lalu kemudian pergi. Meninggalkan kami dan Raja minyak itu. Saya dan sahabat kembali mengobrol sembari menikmati pesanan kami. Sementara si Raja Minyak tak hentinya curi2 pandang pada kami berdua (ge Er Mode On)
5 sampai 10 menit kemudian pria salon itu datang lagi. Kali ini dia duduk disamping saya. Dia pun bercerita tentang Bapak ‘raja minyak’ itu, perihal perkenalan mereka. Kata dia Bapak itu seorang pejabat Timor Leste yang sedang liburan di Bali. Dia juga mengajak kami berdua untuk ikut pergi ke Grahadi bergabung dengan ‘raja minyak’ itu. “Gratis kok.. semua Bapak tadi yang bayarin, kamu mau minum, makan atau mo ngapain aja bebas”. Saya dan sahabat hanya saling pandang. Dengan wajah lugu kami menjawab “mmm.. nggak deh lagian pasti pulangnya malem banget, besok kan musti kerja”. Pria salon tak masalah. Kami lanjut mengobrol. Entah bagaimana awalnya tiba2 obrolan kami menjurus pada hal2 yang berbau sex. Si pria salon tadi tak segan menceritakan pengalamannya semasa bekerja. Bagaimana keperjakaannya terenggut oleh para tante langganan salonnya saat merantau ke ibu kota. Dia juga tak segan menceritakan pengalamannya di paksa memassage seorang pelanggan hingga ‘puas’. Obrolan ini tak ubahnya seperti sebuah wawancara. Pria salon yang mengaku jebolan sebuah pondok pesantren di Malang tersebut tak pernah ragu menceritakan semua yang dialaminya hingga pada hal yang pribadi sekalipun. Bahkan perihal teman sekerjanya yang rata2 bukan pria tulen. Saya sendiri menanyakan langsung padanya apakah dia sendiri tulen. Tapi dia sendiri mengatakan bahwa dia berusaha untuk tetap menjadi lelaki tulen, meski begitu banyaknya godaan dari para banci bahkan langganannya sendiri. Obrolan pun ngalor ngidul sampai dunia keartisan. Kata dia sudah rahasia umum kalau irfan hakim sendiri itu sebenarnya juga pernah menyimpang. Saya sendiri juga pernah mendengar gossip itu dari seorang teman banci yang lain. Sebut ini, sebut itu… fiiuuuehhh!! Buat saya rasanya sudah biasa dengar hal2 macam begitu. Mengingat Bali sebagai ‘khilaf island’ seperti yang pernah dikatakan Ringgo Agus Rahman dalam sebuah wawancara untuk majalah tempat saya bekerja. Itu hal biasa.
Kami juga sempat menanyakan apakah dia pernah berkeinginan lepas dari ‘kegiatan’ yang sekarang ini dia jalani. Dia pun menjawab “ yah semua pasti ada masanya, mudah2an sebelum waktuku tiba aku sudah di beri hidayah”. Saya hanya tersenyum.
Pulul. 20.50. Akhirnya Pria Salon itu pamit juga. Kami mempersilahkannya. Hingga hilang bayangannya dari pandangan, saya dan sahabat saling memandang lalu tertawa. “tadi barusan apaan yah?” hehehehehe…
Kami pun melanjutkan obrolan dengan topik yang lain.
Catatan kecil:
Grahadi: sebuah tempat karaoke beserta ‘entertainment’ lainnya.

banyak yang gak kuat sama godaan dunia…..
tapi na, kan lumayan bisa bebas makan apa aja
*ditabok nana*
hmm…
moral of the story nya apaan ni..??
klo menurut saia, ternyata pejabat negeri seberang tak jauh beda tabiatnya dengan apa yang sering kita dengar di sini (negara kitah)…
eniwei.
lam nal ya..
-tehaha.wordpress.com-
Hmmmm… kasian tuh mas pria salonnya, terjerumus karena lingkungan…
@itikekcil
hehehe.. ogah ah.. jalan ma om2.
@tehaha
mm.. td siy nulisnya ga pake moral. pake word, font times new roman, size12, spasi 1. truss copy paste ke blog… hehehe
@Nazieb
mm… no comment deh klo yang ini
yang penting kita engga, yah selama mereka ngga nyenggol kita kan Na?
*kok kayak preman yah?*
@stey
yak betul sekali… pintar2nya kita menjaga diri.
Ah, menyimpang itu sendiri hanya ilusi kok. *berlalu*
ga bs bayangin bentuknya si pria salon yg blonde ituh.. apalagi si raja minyak.. huwaks,, 7 wanita..gile..
Setahu saya Bali itu pulau dewata. Malah baru tahu ada ‘sebutan’ lain .. aya aya wae Na. Apa karena banyak raja minyak yang berseliweran disana ya?? .. syukurnya Nana ga tergoda kan??
mana skrinsyutnya???
*semangat Mode ON*
Mungkin karena itu juga gw ga “ditaruh” di Bali. Takut ga tahan godaan n jadi ikut khilaf hehehe….
Ya semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya ya Na…
MBG=mall bali galeria ya…?
emang deket tuch ama grahadi.
trus crita si raja minyak gimana..?
@danalingga
ilusi??? ga ngerti mas… kan saya ga lg ngomongin si damien…
@fauzansigma
kenapa? 7 masih kurang yah? hee
@erander
itu katanya Ringgo ‘jomblo’ loh.. hehehehe
@titov
duh mahapken no skrinsyut at this moment
@emyou
tapi klo dah mpe bali bawaanya pengen balik terus loh mbak.. hehehe
@baliazura
ho oh… bali galeria… si raja minyak siy langsung hantam kesana… saya mah pulang kerumah.. hehehehe
ngomongin banci, jadi inget tadi pagi di Depok Express ada cowok banci berpuisi.. teman-teman wanitanya pada tertawa terbahak-bahak, tetapi jelas sekali mengganggu Depexers lainnya…. ups.. sorry oot
salam
@Hedwig
para Banci, gay, dan lesbian sekarang sudah berani go Public yah… xixixixixixixixi….
Bah kan dah dikoordinasi dibali dgn sebuah website…. tp lupa apa kaden web nya…….
Kapan2 kita cari bareng2 tuh t4 mangkalnya……
@Adied
Iya saya pernah tau.. bahkan mereka punya klub voli terkenal…
@Uyax
gatot subroto tuh banyak… hehehehe saya mah ga ikut2an..
serasa memandikan kaki di danau beracun…
tapi jangan sampai berenang ya mbak
Woh… seru mpok
Bali…
seandainya, mbaknya mo ngikut ke sono bisa ngira-ira nggak yang bakal terjadi..?
bali gitu loh,…
tapi sebenernya kan bukan salah Bali-nya kan? yang kesana aja yang sering nyleneh,.. memanfaatkan kesempatan kali ye..?
salam lewat ye..
Bali = khilaf island -> baru tahu tuh, walau pernah ngalamin, tapi khilaf ‘spending money’ lho ya. hehehe.
halah…klo aku seh cuek wae bune…!!!!
dia jual kita beli..!!!
dia ajak duel..kita layani…* loh..????