Bali dan Transportasi

by Biyung Nana

 

 ON)

Buat yang pernah ke Bali, pernah merasa kesulitan ga untuk urusan transportasi dari satu tempat ke tempat lain disini? Especially untuk mereka yang ga punya kendaraan sendiri. Selain taxi dan beberapa penyewaan motor dan mobil, apakah ada yang pernah mencoba untuk naik angkutan umum di Bali?

 

Terakhir saya naik angkutan umum kira kira tahun 2000, waktu itu baru masuk kelas 1 SMA dan belum punya kendaraan sendiri. Sekolahnya lumayan jauh. Berhubung ongkos naik angkutan umum lebih mahal (plus diajak muter2 dulu) dan orang tua ga tahan anter jemput saya sekolah, jadilah saya punya motor pertama saya. Sebuah Yamaha Vega merah warnanya. Dan sejak saat itu saya tidak pernah namanya naik angkutan umum (kecuali waktu ketemu sama ex saya di Jakarta tahun 2006 – dulu masih pacaran)

 

Ketergantungan akan kendaraan pribadi sangat terasa di Bali. Kemudahan layanan umum hanya bisa didapat melalui taxi. Bayangin aja ongkos yang akan dikeluarkan jika tiap hari kemana-mana naik taxi. Bueeehhh alamat tekor neh.

 

Angkutan umum disni sangat terbatas trayeknya, suka ndak jelas, ongkosnya juga lebih mahal daripada harga seliter bensin yang jika dengan motor bisa membawa kita melebihi yang angkutan umum bisa, blum lagi banyak daerah yang masih tidak bisa dijangkau oleh angkutan umum biasa. Lebih apesnya lagi kalo diajak muter-muter cari penumpang. Hueee… males benge!

 

Tapi kalau kelamaan begini, Bali bisa crowded dengan kendaraan pribadi. Mana sekarang banyak sekali pendatang yang mengais rejeki disni. Ga cuma para kuli, segala pengusaha yang jeli melihat peluang mulai mengutak – atik Bali. Buka usaha sana sini, bikin hotel & villa disitu disini.

 

Saya siy ga masalah dengan orang2 yang datang kemari lengkap dengan tetek bengek tujuannya. Hanya saja saya sedikit ngeri membayangkan Bali 5 tahun lagi. Jangan sampai Bali nasibnya kayak Jakarta (ibukota kita tercinta). Yang macet, banjir dan penuh kejahatan kriminal (no offense buat orang Jakarta yah).

 

Sekarang saja rata2 penduduk Bali (asli maupun pendatang) pasti punya kendaraan pribadi baik motor atau mobil (tiap kepala setidaknya memiliki 1 motor atau 1 KK setidaknya memiliki 1 mobil). Kalau angkutan umumnya minim begini dan harga taxi kuta-dps adalah 75rb, gilingan padi disawah, Bali bakalan macet benge!! Mana jalanan di Bali sempit sempit gini .

 

Selain karena minimnya angkutan umum, faktor lain yang membuat pertumbuhan motor dan mobil pribadi disni juga tidak lepas dari rasa gengsi. Gengsi jalan kaki, gengsi naik angkutan, gengsi kalau orang2 tau dia orang ga punya etcetera. Sekarang saja anak SD sudah bisa punya motor sendiri… biarpun masih kredit hueeee cape dehh!! Mak bapaknya kok tega gitu sih. Padahal hidup kan perjuangan, ga bisa segampang itu donk nurutin kemauan anak (hehehehehe jadi kemana-mana yah :lol: )

 

Yah kira kira begitulah wajah Bali saat ini yang dipenuhi dengan motor dan mobil pribadi. Ada yang bisa kasih saran? Baiknya Bali diapain….

 

 

Note:

Maaf jika postingan ini tidak disertai data akurat. Hanya berdasarkan pandangan mata seorang Biyung Nana yang Jegeg mekloteg… (hehehehe cm orang Bali yang tau artinya)