Makanan dan ‘pelengkap’ lainnya
Pada suatu sore nan indah di sebuah mall di Simpang Siur saya yang berencana nomat namun gagal akhirnya memutuskan untuk mampir ke sebuah ‘warung makan’ langganan saya. Nasi uduk, cumi pedas dan tumis brokoli jadi menu pilihan hari itu diantara banyak menu buffet lainnya. Segelas Jus Semangka pun menyegarkan kerongkongan ini dari dahaga tak tertahan. Seorang teman perempuan saya hanya memesan minum, Es Sarang Burung. Kami memilih no smoking area, selain bebas dari asap rokok, disana juga terdapat cermin besar yang membuat kami leluasa memandang diri bernarsis ria. Saya beranjak menuju meja yang dipenuhi kerupuk/pik yang disediakan sebagai complimentary warung tersebut. Ada kerupuk beras, ikan, singkong, pisang dan satu jenis lagi yang saya lupa namanya. Semangkuk kerupuk beras yang berbentuk bulat2 kecil menjadi pilihan saya.
Obrolan pun dimulai. Sembari makan kami bertukar cerita. Tentang hari ini, kemarin dan sekelumit cita-cita. Tinggal dua suapan terakhir, sampai saya melihat sepotong brokoli dan sesuatu berwarna putih terselip di sisinya. Sayapun membolak balik dan mengorek-orek mencari tau apakah benda putih panjang yang berukuran kurang lebih 3cm itu. Ah rupanya tebakan saya benar. Seekor ulat yang mungkin mati terendam minyak tumisan. Aktivitas makan pun terhenti. Saya terdiam dan meneguk jus semangka nan segar yang saya pesan. Ah saya tak ingin mempermasalahkan ini, tak ingin complaint dan marah2 lalu kemudian mengharapkan gratisan ataupun membuat pelayan disana malu, terlebih lagi merusak reputasi ‘warung makan’ tersebut. Saya hanya memutuskan untuk memberitahu mereka saja bahwa dalam brokoli tersebut terdapat makhluk yang tak seharusnya menjadi bagian dari menu makan saya. Setidaknya agar mereka bisa memeriksa kembali menu brokoli tersebut dan pembeli lain tidak bernasib sama dengan saya. Sayapun memanggil seorang pelayan warung tersebut. Melihat isi piring saya, pelayan itupun hanya tersenyum dan meminta maaf sembari membawa piring saya pergi. Tak seberapa lama, pelayan tersebut datang membawa segelas es buah sebagai complimentary. Well, not badlah. Meski sebenarnya tadi saya ingin mengeluarkan kembali apa yang saya makan, toh satu ulat bukanlah sesuatu yang buruk. Lagipula, ulat tersebut telah melewati serangkaian proses pemanasan diatas wajan, pastilah dia sudah matang dan aman untuk dikonsumsi
. Lebih baik daripada kumpulan cacing dan ulat yang harus dimakan mentah2 para peserta fear factor.
Yah… mengingat warung itu adalah warung favorit saya, jadi peristiwa ini tak akan menghalangi saya untuk datang kembali ke warung tersebut. Apalagi 99% pelayan warung tersebut adalah pria2 tampan
. Hanya saja, mungkin saya akan lebih berhati-hati memilih menu. Toh ini baru sekali terjadi dan saya memakluminya karena membersihkan brokoli memang pekerjaan yang membutuhkan ketelitian lebih daripada jenis sayuran lain. *sok tau*
Kejadian serupa juga pernah saya alami di sebuah lesehan Sego Pincuk yang cukup terkenal dan ramai di bilangan Jl. Imam Bonjol. Hanya saja ulatnya berwarna hijau. Kala itu saya tak memberitahukan kejadian itu pada si penjual. Saya hanya menghentikan aktifitas makan saya dan tak pernah kembali kesana hingga hari ini.
Malah yang lebih buruk lagi, saya pernah mendapati nasi goreng saya berisi pecahan kaca yang kemungkinan dari bibir botol saos tomat yang jatuh saat mengoreng. Hah… ada ada saja. Memangnya saya ini kuda lumping apa.
Mudah2an saja mereka2 yang membuka usaha warung, restaurant dan jenis usaha makanan lainnya bisa lebih teliti dalam menjaga kebersihan dagangan mereka. Meskipun sekedar pedagang kaki lima.
About this entry
You’re currently reading “Makanan dan ‘pelengkap’ lainnya,” an entry on GoodTime BadTime
- Published:
- Wednesday, June 11, 2008 / 11:20 am
- Category:
- Uncategorized

28 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]