Kampoeng dan Foto kecilku
Seminggu jadi draft, akhirnya published juga. Dengan segenap keberanian karena takut ketauan make fasilitas kantor buat ngupdate blog pribadi
… EGP lah :p yang penting kece
Laporan mudik mbak Ira mengingatkan saya pada dua foto jadul yang pernah terscan beberapa bulan lalu. Foto langka masa kecil saya disebuah kampoeng dimana ibu saya berasal. Foto saya bersama kakek buyut ketika saya berusia 3 bulan dan satu lagi bersama bibi serta saudara2 sepupu saya. Sejak kecil Nana memang dekat dengan keluarga dari pihak ibu. Mungkin karena jarak tempuh yang lebih dekat dibandingkan kampoeng Bapak di Ponorogo. Sebuah kampoeng yang hanya memerlukan waktu tempuh 1.5 jam dari Denpasar.
Bangli. Orang bilang itu kampoengnya orang gila. Bagaimana tidak, di sana berdiri Rumah Sakit Jiwa yang paling terkenal di Bali. Jadi sudah biasa kalau Bangli diidentikan dengan orang gila. Tapi bukan berarti di Bangli banyak orang gila berkeliaran ya:D.
Hawa yang dingin membuat saya betah berlama lama disana. Hamparan sawah dan pepohonan hijau memanjakan mata mudah ditemui disekelilingnya. Mandi di aliran irigasi sawah atau pancuran jernih di pemandian dekat rumah, main ke sawah dan sekedar menaiki bukit untuk melihat perkampungan penduduk serta pulau Nusa Penida yang tampak dari kejauhan adalah kegiatan wajib jika saya berkunjung kesana. Ah.. entah apakah anak cucu saya nanti bisa merasakan hal macam begini. Bersetubuh dengan alam.
Dan moment yang paling menyenangkan bagi saya adalah mandi di alam terbuka. Ditemani hamparan sawah di depan mata, pepohonan hijau, air nan jernih… begitu tenang, tak ada sedikitpun kebisingan. Meski berjarak beberapa meter dari jalan raya, hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang. Lagipula lokasinya pun agak di bawah. Meski terkadang bisa dijumpai beberapa mata lelaki yang curi curi pandang di kejauhan. Cukup dengan memunggungi mereka. Setidaknya bagian paling sensitifpun tak akan menjadi konsumsi mata jalang mereka. Mungkin karena penduduk disana sudah terbiasa dengan kegiatan mandi seperti itu jadi urusan mandi tak pernah jadi perkara besar atau bahkan berujung masalah. Setahu saya… tujuannya cuma mandi, itu saja. Tapi entahlah, hati orang siapa yang tahu.
Kegiatan mandi di alam terbuka seperti itu tidak pernah saya lakoni lagi. Mungkin karena sudah jarang pulang. Kalaupun saya pulang, entah apakah saya masih memiliki cukup keberanian.
PS: Berhubung keterbatasan waktu, tempat dan koneksi, sejarah Bangli dapat dilihat disini atau disini.
About this entry
You’re currently reading “Kampoeng dan Foto kecilku,” an entry on GoodTime BadTime
- Published:
- Wednesday, July 2, 2008 / 5:43 am
- Category:
- Uncategorized
- Tags:
- Curhat


15 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]