Menunggu
by Biyung Nana
Semua orang membicarakannya, semua tivi menayangkan beritanya. Dan kembali… mengungkit luka lama, kesedihan serta trauma.
Bulan November menjadi jawaban dari penantian panjang para korban yang mungkin sampai hari ini masih menaruh dendam, meski sesungguhnya itu tak dapat merubah apapun. Tidak nasib atau bahkan rejeki para janda untuk sekedar membuat dapur tetap mengebul.
Suatu malam yang singkat namun meninggalkan sekumpulan jejak jejak makna. Entah luka, dan yang pasti duka. Sampai pada hikmah terdalam tentang hidup dan mati, betapa kita tak mampu mengelak barang sepermilisekonpun. Ketika semua tiba tiba gelap. Sunyi senyap lalu kemudian hiruk pikuk kepanikan menjelajah disetiap pembuluh nadi. Ketika satu tak cukup dan dua tak lagi melengkapi. Ketika satu tak cukup dan dua meluluhlantakkanmu, aku, mereka, tanpa terkecuali. Hingga mata ini tak sanggup menangisi semua. Bahkan ketika kulihat tubuh tubuh itu berubah merah tersaput darah. Aku masih tak sanggup meneteskan air mata. Hingga segelas airmu membuatku lega.
Masih teringat betapa kuatnya ledakan itu hingga membuat tubuhku terlempar menghantam dinding, terjerembab ditumpukan sampah. Sebuah ‘pendaratan’ empuk, namun cukup membuat badanku lebam. Masih terbayang dalam pikiranku potongan tubuh2 matang dan kepala yang bertengger diantara bangunan dan kabel listrik.
Dan kami harus menunggu selama 6 tahun untuk pengumuman itu… yang bahkan masih menggantung hingga hari ini. Memandang wajah sumringah para pelaku sembari melambaikan tangan dan tertawa bahkan minta kawin lagi. Tidakkah cukup mereka membuat kami terluka, kehilangan orang2 tercinta, terkungkung rasa trauma dan kini kalian asik tertawa. Kalian yang minta mati, tapi mengapa sekarang ogah mati.
Bukan tak ikhlas… tapi bantulah mereka melewati proses melepaskan dengan tenang. Ada para janda dan anak anak mereka, ada mereka yang kehilangan ibu dan istri tercinta. Jika tiap tahun selalu diusik dengan berita penantian menjelang eksekusi yang tak kunjung jadi, sungguhpun itu hanya akan membuat mereka kembali luka.
Bilakah kita akan sampai pada satu titik?

dan smoga tak perlu ada lagi darah mengalir…
Damai itu indah.
Kapan bisa terwujud?
Amarah…Benci…Dendam masih ada dimana-mana…
nyantai aja..semua ada waktunya
Media memang kadang tak peduli dengan perasaan orang
apapun, kekerasan atas nama agama adalah keji!
dan bentar lagi dia di eksekusi
memang pembunuhan lebih kejam dari pada tidak membunuh
eksekusi dengan bau politik sangat kental dan cenderung kenyal seperti agar2.
ada apa sih di 2009……
apa kalok udah di eksekusi masalahnyah dah selese?
DImana harus mencari keadilan yah?
Pembunuhan kok dilakukan oleh makhluk yang katanya makhluk mulia ya… Salam kenal ajah (saya diajak ke sini oleh mbak Rindu yang komentarnya di atas saya…he…he.., nggak ding).
bagaimanapun, kekerasan dengan membawabawa nama tuhan itu keji
semoga kematian mereka bertiga bukan menjadi pemicu aksi brutal lain,
semoga
akhirnya selesai juga.sudah berakhir.semoga tidak terjadi apa-apa sesudah ini.
@all
mudah2an masih aman…
[...] arsip lama pun kembali dibuka. Kali ini tak sebanyak ketika kami menunggu. Mungkin segala komentar kami tak lagi semenjual [...]