the truth

White lie, berbohong demi kebaikan. Adakah benda semacam itu di dunia?

I used to trust this concept does really exist. ‘Untuk kebaikan bersama’ begitu orang bilang. Ada rasa kekhawatiran akan resiko menyatakan kejujuran. Khawatir ini akan menciptakan konflik, perpisahan, ketersinggungan atau semata mata hanya untuk kelanggengan. Terjebak dengan pikiran bahwa pasangan tidak bisa menerima kenyataan.

Belakangan… saya menyadari betapa melegakannya sebuah kejujuran total. Tidak ada yang disembunyikan. Jujur itu tidak mudah, terlebih bagi mereka yang tidak terbiasa dan menganut paham ‘white lie’ (baca: kejujuran yang tertunda). Kejujuran tertunda hanya menawarkan rasa aman yg bersifat sementara, semu dan lama kelamaan menjadi tumpukan rasa bersalah, beban dan konflik batin

“The truth sets you free”

Tidak ada white lie

Karena hanya kejujuranlah yang membawa kelapangan hati, kelegaan dan hidup tanpa menumpuk beban.

Saya terbiasa menghindari konflik dengan lebih sering diam. Menyimpan yang saya rasakan karena takut pasangan tidak akan menerima. Yang terbayang adalah jika saya bicara apa adanya, maka itu sama saja dengan memulai pertengkaran, kekhawatiran bahwa konflik akan berujung perpisahan membuat saya enggan bicara apa adanya.

Mengasah diri untuk mengungkapkan isi hati,  itu yang sedang saya pelajari. Saya paham bahwa saya tidak terampil dalam berkomunikasi namanya juga pemalu :oops: . Hal penting lain adalah bagaimana menerapkan Komunikasi Tanpa Kekerasan, (Non-Violent Communication). Yah.. sesuatu yang juga harus saya pahami. Karena ini akan mengasah kemampuan saya untuk berempati, terhadap pasangan, sekitar.. siapapun. Tidak satupun dari kita yang menyukai perlakuan kasar bukan? baik itu berupa ucapan ataupun tindakan fisik.

……

Bahwa hidup ini ga selalu manis. Meski begitu… pahit-manis, positive-negative, semua membuat kita bertumbuh. Bahwa tidak satupun hal di dunia ini yang tercipta sia sia, semua pasti ada maknanya

 

 


About this entry