Emotional Affair
by Biyung Nana
Awalnya cuma teman biasa, bahkan ngotot kalo memang selamanya teman biasa, tapi intensitas bertemu dan komunikasi melebihi dari komunikasi dengan pasangannya sendiri. Dari makan siang bareng, saling curhat, sampai rela membatalkan janji makan malam dengan pasangan demi menemani ‘teman’ lembur di kantor atau sekedar menemani nonton premier film terbaru.
Di kantor, di lobby, di mall, café, bahkan di chatroom, semuanya berpotensi menimbulkan benih benih perselingkuhan. Apalagi zaman sudah beda. Segala akses komunikasi pun kini begitu mudah, bisa segala penjuru. Dari chatting, facebook, friendster etcetera hingga biaya telpon murah baik sesama ataupun lintas operator. Dari tetangga di ujung gang hingga belahan bumi manapun, segalanya terasa dekat di depan mata.
Bermula dari sapaan sederhana berlanjut pada intensitas mengobrol yang luar biasa, timbulah ketertarikan dan rasa percaya untuk saling berbagi cerita. Entah itu teman kantor, tetangga, teman masa kecil, teman SMA ataupun dunia maya. Kebanyakan dari mereka yang terjebak mengelak untuk mengakui bahwa mereka sesungguhnya sedang menjalani sebuah perselingkuhan emosional. Rasa nyaman bahkan melebihi rasa nyaman terhadap pasangan yang dimiliki saat ini, menutupi segala bentuk kedekatan dan komunikasi bersama sang ‘teman’ dari pasangan, berbagi cerita yang tak pernah kita bagi dengan pasangan, dan menyengajakan diri untuk menyediakan waktu bersama sang ‘teman’ ketimbang dengan pasangan. Sukur sukur tidak sampai pada hubungan badan. Tapi tetap saja menyakitkan bagi pasangan bukan?
Often we don’t appreciate our relationship until we are about to lose it.
Ayolah… sekali sebuah komitment itu dibuat… konsistenlah untuk menjalaninya. Hargai pasangan dan terbukalah untuk hal sekecil apapun. Berhentilah berkhayal mendambakan pasangan sempurna ala cerita Cinderella. Membandingkan pasangan dengan segala pengharapan kita atau bahkan yang dipunya orang. Segala sesuatu itu sudah sempurna kalau kita anggap sempurna.
Remember, It takes time to rebuild trust after betrayal… even if it’s just an emotional affair.
*artikel diambil dari ngerumpi.com

kayaknya saya belom nemu yang kayak gitu di dunia maya. *bukan berarti saya nyari lho…*
hal ini memang sering terjadi, namun semua itu tergantung pada diri pribadi yang menjalani