inglorious basterds

No no no.. Ini bukan review filmnya brad pitt yg baru, melainkan kisah yg mengiringi saya selama kurang lebih 2,5 jam terduduk diruang gelap berharap terhanyut dalam tiap intrik cerita Inglorious Bastards.

Ah saya terlambat masuk. 15 menit terlewat dan segera saya mencari posisi B16 dimana saya harus mendaratkan tubuh saya untuk dibawa kedalam sejarah Nazi (setidaknya itulah yg saya pikirkan). Disamping kanan, 3 orang teman perempuan saya menyapa dan sejenak kemudian kami kembali menatap layar.

Alur cerita mulai bisa saya tangkap. Saya tak cukup pengetahuan atau pun sempat mencari rangkum cerita film ini sebelumnya. Terdengar komentar-komentar, hingga sampailah pada adegan ketika Hans Landa mencekik leher Bridget Von Hammersmark lalu tiba tiba film terputus. Seluruh pengunjung bersorai, lalu menunggu..

Menunggu..

Menunggu..

Layar masih tampak gelap, menduga duga bahwa sang petugas sedang menghidupkan genset, mungkin hari ini adalah jadwal pemadaman listrik bergilir yg sedang rajin dilakukan PLN.

10 menit berlalu, roll film kembali melaju. Lega karena tak perlu susah payah menuntut uang 15rb saya kembali. Pengunjung yg tak banyak ini pun kembali duduk tenang.

Lama kemudian, datanglah seorang laki laki masuk kederetan kursi tempat kami, memang masih ada 3 kursi kosong di ujung sebelah kiri, setelah 2 penghuni sebelumnya pindah ke barisan A.

Orang itu pun duduk di sebelah saya. Benak saya ‘Ah la mak, telat sekali kau’. Tak lama kemudian ia bangkit, sungguh sangat menggangu mengingat kami sedang menghadapi 5 menit akhir yg sangat krusial, tak lama ia bertanya

‘Mbak disini B16 ya?’
‘Iya, saya duduk di B16′
‘Tempat mbak duduk itu kursi saya’
‘Hah! Ga mungkin, saya jg belinya B16′
seorang teman saya menimpali
‘Studio berapa mas? Salah kali’
Menjawab dgn sedikit ngotot ‘satu, Inglorious Bastards’ seraya menunjukkan tiket yg ia senter. Wah si mas itu benar, tertera film yg sama di studio yg sama pula. Eits… Tapi kok jam 20.30?

‘Mas ini yg maen sekarang itu jadwal jam 6 kurang 15′

Si mas kaget ‘Oh gitu, maaf mbak maaf, permisi…’

Dan si mas itu pun pergi seiring berakhirnya film ini.

Aarrrggghhh endingnya gimana tadi?????


About this entry