nyepi kali ini
by Biyung Nana
Hanya satu hari dalam setahun, tanpa hiburan dan cahaya lampu. Tiada bepergian, hanya kesunyian diantara penatnya waktu menunggu. Menunggu sehari terlewati yang umumnya bagi kami begitu membosankan, beberapa bahkan memilih lari menghindar.
Begitulah keluh para pendatang yang tak menjalankan Tapa Brata peNyepian. Padahal, di malam sebelumnya kami mengikuti semarak dari hingar bingar gamelan para pengarak Ogoh-Ogoh.
Persiapanpun tak kalah heboh, umumnya, bagi yang tak cukup memiliki rupiah untuk menyewa sebuah villa atau kamar hotel, akan memadati supermarket membeli persediaan makanan di rumah. Dari menu makan besar sampai cemilan. DVDpun tak kalah jadi incaran, dari film action sampai film biru demi membunuh kekosongan.
Sayangnya, untuk tahun ini, Nyepi betul2 dibuat sepi. Kami yang biasanya menyiapkan segala bahan untuk menutupi seluruh jendela dan pintu dari celah cahaya, entah dari selimut, handuk ataupun koran demi menonton TV agar tak terlihat oleh para pecalang/polisi adat, kini tak perlu repot lagi. Seluruh channel TV nasional tak tayang disini.
Maka sempurnalah Nyepi kali ini. Bahkan cicak, tokek, anjing, kucing tetangga yg hobi kawin pun hening. Seolah ikut khusyuk beribadah menyeimbangkan bumi.
Namun satu hal yg konon sempat membuat peribadatan umat Hindu sedikit terusik. Sebuah komen seorang remaja bernama Ibnu di facebook yang berkeluh kesah dan mengucap kata T*I pada perayaan Nyepi. Banyak yg tersinggung, tapi banyak pula yg dengan bijak menanggapi.
Kejadian ini mengingatkan saya pada cerita gede prama yg pernah berkisah tentang seorang tuan rumah yang menerima satu kantong plastik berisi kotoran hewan dari tetangganya. Sang tuan rumah tersebut langsung tersinggung dan marah karena merasa martabatnya dilecehkan. Namun, berbeda dengan tuan rumah yang kedua. Ketika menerima satu kantong yang berisi kotoran, ia langsung berpikir untuk menjadikannya pupuk bagi tanaman yang selalu dirawatnya dan berterimakasih kepada tetangganya.
Sejak kecil kita dibiasakan melihat kotoran sebagai sesuatu yg menghinakan. Patut dibuang jauh, tapi dengan adanya kejadian Ibnu.. Barangkali kita bisa menjadi pribadi yg makin bertumbuh
Selamat Hari Raya Nyepi

good … yah begitu nyepi tahun ini.. begitu ketatnya, sampe2 akupun merasakan kucing2ngan dgn pecalang, yg biasanya tak pernah lewat dan memeriksa diperumahan kami, eh tahun ini merasakan juga saia… dan lebih hebohnya lagi memang, anak muda berceloteh ttg kekesalannya yg berbuntut panjang….
tapi itulah nyepi, sepiiiiiiiiiiiiiii………..
Selamat hari raya Nyepi
nyepi yang sepi..
Hai! Saya bingung nih. Tahu dari mana para peraya Nyepi itu bahwa Ibnu mengumpat di Facebook? Memangnya di tengah Nyepi-an mereka menyalakan Facebook? Padahal kalau sedang Nyepi jangan menyalakan listrik kan?
Nyepi di luar memang sepi, tapi di dunia sangat ramai. Kalau Nyepi jangan menyalakan listrik? menyalakan Facebook? untuk berfacebook tidak perlu listrik, sehari sebelum nyepi, baterai handphone diisii penuh, bisa dech buka facebook