rindu

by Biyung Nana

Entah apakah itu pertanda. Sapaan yang sejak lama aku hindari demi lelaki yang saat itu tiga minggu lagi kutemui. Perjalanan yg memang sudah terencana jauh-jauh hari. Lelaki yang 2,5 tahun ini menemani hariku. Pertemuan yg kupikir akan membawa kami pada arah yang kuinginkan.

Tidak banyak pertanyaanmu yg kuingat, hanya beberapa karena saat itu kita tidak terlalu lama berbicara. Salah satunya adalah kapan aku akan ke Jakarta. Bagiku saat itu sebuah percakapan biasa. Hanya silaturahmi seorang teman lama.

Waktu berlalu, seminggu kemudian kami bukan siapa-siapa. Teringat sapaanmu seminggu lalu kemudian aku mencarimu. Tidak dengan maksud lain, hanya menurutku kali ini aku sudah bebas berteman dengan siapa saja. Termasuk kamu. Teman lama. Selebihnya kamu tahu ceritanya.

Sampai hal yang kutakutkan terjadi. Aku mulai rindu, Aku pikir tak mungkin. Apakah karena membangunkanmu setiap pagi? Ah rasanya lebih sering gagal karena tidurmu yang selalu lelap. Kucerna rasa, Bisa jadi kehilangan membuat hati ingin segera terisi. Ataukah masih ada sisa rasa? Untukmu?

Sesungguhnya bukan karena aku takut merindu. Aku takut kamu tak merasa hal yang sama. Sekian lama tak bersua pasti banyak hal yang berbeda.

Jika diumpamakan kamu merasakan hal yang sama, ah.. kurasa tetap tidak bisa. Kita sudah pernah mencobanya dulu, berulang kali. Kutanamkan itu di kepala.

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menyerahkan apa yang kurasa pada Pemiliknya. Biar Ia yang mengatur kemana rasa itu dibawa, kapan habisnya dan bagaimana nanti jadinya. Setidaknya aku pernah bilang padamu tentang rinduku. Dan itu sudah cukup buatku. Sebagai perempuan.

Hidup sudah dipetakan, tak ada yang perlu kukhawatirkan. Tiba waktunya nanti aku akan paham, kita akan paham.