Biyung Nana

Good Times, Bad Times

Category: Uncategorized

if marriage were easy

Dan dadamu berdebar sejak ia melamarmu. Menunggu waktu dengan hati-hati, menjaga agar semua yang direncanakan tetap pada tempatnya. Berharap-harap cemas penuh tanya inikah jodohku? bagaimana jika salah pilih? Apa yang terjadi setelah semua ikrar dan ‘kontrak’ persetujuan bersama saat susah dan senang ditandatangani. Akankan sama setelah ini?

I think marriage is the most difficult thing in life and yet it is the best thing in life. Berbeda dengan masa pacaran dimana kebanyakan perempuan akan mengharapkan cerita dongeng seorang pangeran tampan nan gagah menyelamatkan sang putri dari tidur yang panjang lalu berakhir dipelaminan, sesungguhnya cerita Mereka-bahagia-selama-lamanya baru saja dimulai.

I’ve never been there but somehow I know it takes a lot of effort to get this happily ever after story. Macam kita berinvestasi, hanya saja tidak dalam bentuk uang atau materi. Butuh komitmen luar biasa dan energi. Bayangkan, 2 manusia berbeda tak hanya tinggal seatap tapi bahkan satu ranjang. How can you deal with that? Saya? Membayangkan betapa serunya berkompromi dengan suara ngorok dan kentut, berbagi selimut, ya itu yang saya pikirkan selain betapa menyenangkannya sex setelah memiliki pasangan tetap. Ada banyak buku panduan berelationship, sebagian besar mengatakan komunikasi sebagai salah satu pondasi. Yes, everything we say or don’t say communicates something. Apakah itu saja cukup? Bagaimana kita tahu bahwa pasangan kita akan total dalam komitmen meski dalam kesusahan dan perubahan sekalipun? Bagaimana jika ditengah perjalanan salah satu dari kami tiba-tiba mengubah tujuan?  bagaimana mengetahui kebenaran dari apa yang dikatakannya? Atau yang lebih buruk.

Someone says; marriage is designed to grow us up into better humans, it is not about being happy. It’s about growing. I couldn’t agree more.

Good night good people :)

28

Beberapa orang memiliki angka spesial dalam hidupnya. Entah angka keberuntungan, angka istimewa dari sebuah peristiwa; kelahiran, pernikahan, apapun. Saya salah satu dari mereka.

Sebenarnya ini belum terlalu lama, saya bahkan baru menyadarinya seminggu yang lalu ketika seorang teman baru coba menerka usia saya, rasanya seperti dejavu, bukan, rasanya seperti dibawa melesat ke masa lalu. Ah, masa yang terlalu muda untuk angka yang ia sebut.

28. Ya, dua puluh delapan. Angka sama yg pernah disebut beberapa orang 7 tahun silam. Ketika usia saya bahkan belum genap dua puluh. Selalu angka itu bahkan ditahun-tahun berikutnya tiap kali bertemu dengan kawan baru. Hingga seminggu yang lalu, lagi-lagi seorang teman yang baru pertama jumpa mengucapkan angka yang sama. Setidaknya butuh 2 tahun lagi untuk menggenapkannya agar saya bisa membalas dengan jawaban ‘Ya’.

Mungkin memang raut wajah saya terlihat tak sejalan dengan usia, boros, matang yang kelewat cepat. Tapi tak pernah terbayang jika ia terhenti diangka 28 sejak tujuh tahun silam. Lalu apa yang akan terjadi setelah usia saya ke-dua puluh delapan?

a baby ball python

Is exploring my table, hiding in my calendar. Isn’t she cute?

Forgiveness

Forgiving is doable, even though it’s easier said than done.

I remember when I wrote this ‘takes two to tango’ few years ago. The moment when I could see things very clearly. The moment when we were together.

—–
It takes two to tango.
If there’s only one person on the dance floor, it’s time to find another partner.
Even if we’ve never danced before, shall we learn our step together

It takes two tango
And we are both responsible for the fight we throw

It takes two to tango
That the conflict is not the fault of just one person or the other
We are often both to blame, because it takes two to tango

—–

Although my ex-boyfriend was the one that hurt me, I think both of us made mistakes at some point in the relationship. Both of us were responsible for whether the relationship survived or not. I’m not perfect, neither is he. .

“I don’t need to agree with you but I try to understand your perspective. And that is how I let go of you.”

it takes two to tango and two to stop the dance as well.

One thing I’ve learned that forgiveness is not about the other person. It’s about letting myself out of the anger and grudge that I’ve been carrying these days. It heals me.

Regardless of the things said and done, forgiveness is the only way to free myself from the pain.

To forgive you.. And more importantly forgiving myself.

Dear Mantan: Stop playing victim!

Entah apa yang ada dipikiran seorang lelaki yang padahal sudah memiliki kekasih tapi masih membahas tentang mantan terakhirnya disalah satu situs sosial media. Ada banyak kemungkinan; antara belum sepenuhnya move on, masih punya perasaan tapi penuh kekecewaan dan lain sebagainya.

Kalau berpikir buruk, bisa saja demi pencitraan karena tak ingin terlihat kesalahan dan kekurangannya. Apalagi jika yang diedarkan justru hal yang semacam ‘playing victim’. Bagus juga sebagai trik untuk mengambil hati sang gadis yg sedang dipacari agar makin yakin, persis seperti saat dulu si lelaki menggunakan trik yg sama pada saya, ‘playing victim’ sebagai korban yang ditelikung temannya.

Bukankah kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Dengan menjatuhkan mantan tidak akan membuat ‘kredit’ kita bertambah.

Saya selalu berusaha menyambung tali silaturahmi meskipun dengan mantan mantan saya, bukan karena masih tersisa rasa, saya sangatlah paham memilah batasan mantan dengan pasangan. Meski saat ini, itu HANYA berlaku bagi mantan yang hubungannya terputus karena kami memang sama-sama memahami bahwa hubungan itu tidak bisa dilanjutkan karena hal-hal yg tentu saja diluar PERSELINGKUHAN.

Semua sudah berlalu, saya juga tak punya urusan lagi dengan mantan yang mulutnya seperti kaleng rombeng. Thank God we’re split. But my deepest regret is sleeping with a drama queen like him. May Allah forgive me and have mercy on me.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 117 other followers