if marriage were easy
Dan dadamu berdebar sejak ia melamarmu. Menunggu waktu dengan hati-hati, menjaga agar semua yang direncanakan tetap pada tempatnya. Berharap-harap cemas penuh tanya inikah jodohku? bagaimana jika salah pilih? Apa yang terjadi setelah semua ikrar dan ‘kontrak’ persetujuan bersama saat susah dan senang ditandatangani. Akankan sama setelah ini?
I think marriage is the most difficult thing in life and yet it is the best thing in life. Berbeda dengan masa pacaran dimana kebanyakan perempuan akan mengharapkan cerita dongeng seorang pangeran tampan nan gagah menyelamatkan sang putri dari tidur yang panjang lalu berakhir dipelaminan, sesungguhnya cerita Mereka-bahagia-selama-lamanya baru saja dimulai.
I’ve never been there but somehow I know it takes a lot of effort to get this happily ever after story. Macam kita berinvestasi, hanya saja tidak dalam bentuk uang atau materi. Butuh komitmen luar biasa dan energi. Bayangkan, 2 manusia berbeda tak hanya tinggal seatap tapi bahkan satu ranjang. How can you deal with that? Saya? Membayangkan betapa serunya berkompromi dengan suara ngorok dan kentut, berbagi selimut, ya itu yang saya pikirkan selain betapa menyenangkannya sex setelah memiliki pasangan tetap. Ada banyak buku panduan berelationship, sebagian besar mengatakan komunikasi sebagai salah satu pondasi. Yes, everything we say or don’t say communicates something. Apakah itu saja cukup? Bagaimana kita tahu bahwa pasangan kita akan total dalam komitmen meski dalam kesusahan dan perubahan sekalipun? Bagaimana jika ditengah perjalanan salah satu dari kami tiba-tiba mengubah tujuan? bagaimana mengetahui kebenaran dari apa yang dikatakannya? Atau yang lebih buruk.
Someone says; marriage is designed to grow us up into better humans, it is not about being happy. It’s about growing. I couldn’t agree more.
Good night good people


