Biyung Nana

Good Times, Bad Times

Dear Mantan: Stop playing victim!

Entah apa yang ada dipikiran seorang lelaki yang padahal sudah memiliki kekasih tapi masih membahas tentang mantan terakhirnya disalah satu situs sosial media. Ada banyak kemungkinan; antara belum sepenuhnya move on, masih punya perasaan tapi penuh kekecewaan dan lain sebagainya.

Kalau berpikir buruk, bisa saja demi pencitraan karena tak ingin terlihat kesalahan dan kekurangannya. Apalagi jika yang diedarkan justru hal yang semacam ‘playing victim’. Bagus juga sebagai trik untuk mengambil hati sang gadis yg sedang dipacari agar makin yakin, persis seperti saat dulu si lelaki menggunakan trik yg sama pada saya, ‘playing victim’ sebagai korban yang ditelikung temannya.

Bukankah kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Dengan menjatuhkan mantan tidak akan membuat ‘kredit’ kita bertambah.

Saya selalu berusaha menyambung tali silaturahmi meskipun dengan mantan mantan saya, bukan karena masih tersisa rasa, saya sangatlah paham memilah batasan mantan dengan pasangan. Meski saat ini, itu HANYA berlaku bagi mantan yang hubungannya terputus karena kami memang sama-sama memahami bahwa hubungan itu tidak bisa dilanjutkan karena hal-hal yg tentu saja diluar PERSELINGKUHAN.

Semua sudah berlalu, saya juga tak punya urusan lagi dengan mantan yang mulutnya seperti kaleng rombeng. Thank God we’re split. But my deepest regret is sleeping with a drama queen like him. May Allah forgive me and have mercy on me.

Tarot Reading

Berawal dari niat membantu teman teman yang ngebet ingin dibacakan nasibnya lewat tarot, saya yang hanya pernah tahu seorang nama pembaca tarot namun susah dihubungi mulai menyerah. Mungkin memang tidak berjodoh dengannya, sampai suatu acara kantor mempertemukan saya dengan seorang assisten magician. Sayapun iseng menanyakan adakah ia mengenal seorang yang bisa membaca tarot di Bali. Diapun menyebutkan seorang nama, Ifan. Setelah nomornya tercatat saya memberitahukan teman teman yang tertarik. Dan kami pun membuat janji bertemu. Jujur awalnya saya hanya iseng, malah skeptis mengingat penampilan assisten magician yg sangat muda dan funky, saya berasumsi sang tarot reader pastilah masih muda dgn usia tak jauh beda dgn saya dan kemampuan yg hanya rata2.

Terkumpul empat orang termasuk saya sendiri, kami bertemu disuatu tempat di dalam Mall. Ternyata perkiraan saya salah. Mas Ifan adalah seorang yg usianya jauh diatas saya dengan penampilan sederhana.

Konsultasipun dimulai, saya biarkan teman teman saya yang memang berkepentingan untuk maju lebih dahulu. Bukannya saya tak antusias, tapi karena sesungguhnya saya tidak tahu harus bertanya apa pada mas Ifan. Dan sampai giliran saya tiba pun, saya masih bertanya pada diri saya ‘perlu ya?’. Mas Ifan sendiri sudah menjelaskan sebelumnya bahwa dia tidak meramalkan masa depan, tetapi membaca apa hal yang dominan ‘di- attract’ dalam pikiran seseorang dan kemungkinan2 yang terjadi. Entah apakah itu sama saja, tapi toh akhirnya saya duduk disamping mas Ifan yang sedang mengacak kartu tarotnya.

“Mau tanya apa” kata mas Ifan. Saya jawab “ga tahu”.
“Ok, kita mulai dari yang general saja” ia menyuruh saya mengocok kartu tarot itu untuk kemudian dipotong menjadi tiga bagian menggunakan tangan kiri saya. Ia pun bercerita tentang apa yang telah saya lewati, tidak detail tapi tepat sekali. Saya mendengarkan ia bercerita tentang asmara masa lalu, akan datang, pekerjaan dan kemungkinan2 pada beberapa pilihan keputusan. Entah kenapa saya tak terlalu antusias tentang kisah cinta. Tapi saya menerka, mungkin karena saya yakin tanpa ditanyapun kapan datangnya nanti pasti ada. Saya lebih tertarik dengan kemungkinan dari rencana bisnis yang dapat berkembang dan sesuai minat saya. Sesuatu yang menurut prediksi mas Ifan ‘worth to try’. Sesuatu yang jika saya perjuangkan hasilnya bukan hanya untuk diri saya sendiri. Ada satu kartu yang menunjukkan bahwa hasil dari kerja keras itu dapat menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Ya, saya lebih tertarik dengan kemungkinan itu. Cukup membuat optimis dan yakin dengan pilihan yang selama ini diambil, tinggal seberapa jauh effort saya untuk meraihnya. Karena seberapa kaya dan berhartanya saya nanti seperti dikatakan oleh tarot itu, tetap tak akan terjadi apa-apa jika kemudian yang saya lakukan hanya tidur dan melamun saja. Life is a choice.

rindu

Entah apakah itu pertanda. Sapaan yang sejak lama aku hindari demi lelaki yang saat itu tiga minggu lagi kutemui. Perjalanan yg memang sudah terencana jauh-jauh hari. Lelaki yang 2,5 tahun ini menemani hariku. Pertemuan yg kupikir akan membawa kami pada arah yang kuinginkan.

Tidak banyak pertanyaanmu yg kuingat, hanya beberapa karena saat itu kita tidak terlalu lama berbicara. Salah satunya adalah kapan aku akan ke Jakarta. Bagiku saat itu sebuah percakapan biasa. Hanya silaturahmi seorang teman lama.

Waktu berlalu, seminggu kemudian kami bukan siapa-siapa. Teringat sapaanmu seminggu lalu kemudian aku mencarimu. Tidak dengan maksud lain, hanya menurutku kali ini aku sudah bebas berteman dengan siapa saja. Termasuk kamu. Teman lama. Selebihnya kamu tahu ceritanya.

Sampai hal yang kutakutkan terjadi. Aku mulai rindu, Aku pikir tak mungkin. Apakah karena membangunkanmu setiap pagi? Ah rasanya lebih sering gagal karena tidurmu yang selalu lelap. Kucerna rasa, Bisa jadi kehilangan membuat hati ingin segera terisi. Ataukah masih ada sisa rasa? Untukmu?

Sesungguhnya bukan karena aku takut merindu. Aku takut kamu tak merasa hal yang sama. Sekian lama tak bersua pasti banyak hal yang berbeda.

Jika diumpamakan kamu merasakan hal yang sama, ah.. kurasa tetap tidak bisa. Kita sudah pernah mencobanya dulu, berulang kali. Kutanamkan itu di kepala.

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menyerahkan apa yang kurasa pada Pemiliknya. Biar Ia yang mengatur kemana rasa itu dibawa, kapan habisnya dan bagaimana nanti jadinya. Setidaknya aku pernah bilang padamu tentang rinduku. Dan itu sudah cukup buatku. Sebagai perempuan.

Hidup sudah dipetakan, tak ada yang perlu kukhawatirkan. Tiba waktunya nanti aku akan paham, kita akan paham.

waktu

“Time is mystery” katamu. Aku diam tapi hatiku berkata setuju. Siapa yang sangka kepergianku kali ini justru untuk bertemu kamu.

Delapan bulan lalu, kami antusias berencana. Menyusun agenda dari perjalanan 4 hari 3 malamku. Apa yg akan kami lakukan, dimana akan menginap serta dgn siapa saja aku akan bertemu.

Dan hanya butuh kurang dari sehari untuk membuat semua yg tersusun menjadi buyar berantakan, lenyap. Ragu untuk pergi karena entah siapa yg akan dituju.

Tiga minggu kemudian aku disini, bersamamu. Ini lewat tengah malam, dingin membuat kita lapar hingga terdampar disudut meja sebuah restaurant cepat saji. Aku duduk dihadapanmu, mendengarmu bercerita, memahami kembali pemikiranmu setelah pertemuan terakhir kita tiga tahun lalu. Tidak banyak yg berubah selain makin dalamnya kamu memaknai keberadaanmu. Pipimu yang chubby juga masih terlihat lucu.

Tapi kita tidak sedang mengulang masa lalu. Tidak juga merencanakan masa depan, hanya menikmati kekinian. Sampai nanti kita bertemu kembali, entah kapan.

(Bandung, 09 Juli 2011)

detachment

Kehilangan, dibohongi, rasa kecewa, sudah sangat lama sejak kami terakhir bersua. Dan tahun ini, kami kembali bertemu. Bertukar rindu, mengajarkan tentang bagaimana melepas keterikatan akan sesuatu.

Memberi diri saya jeda untuk melihat bagaimana semesta mengatur kembali alur alur kisah yang baru. Kisah saya.

Dan tidak ada kebetulan-kebetulan yg tidak disengaja. Jauh sebelum mereka datang, semesta berkabar memberi tanda.

Ada garis yang sudah ditetapkan, ada hal yang tidak bisa saya ubah. Tidak bisa saya genggam lama masa lalu jika ingin menerima hidup yang baru.

Semua yang terjadi sudah sempurna, waktu yang tepat dan cara yang mungkin tidak ada yang lebih baik dari ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 101 other followers