catatan biasa
Disclaimer: Tulisan ini tidak dibuat untuk menarik simpati atau belas kasihan, pun merasa menjadi sosok yg paling teraniaya.
——–
Jika ibu yg melahirkanmu, membesarkanmu, menemanimu bahkan disaat-saat terburuk dalam hidupmu dikatakan melakukan suatu tindakan keji apa yg km lakukan?
Perempuan itu meneriaki saya, berkata bahwa ibu dgn sengaja membocorkan tabung gas agar entah dia atau anaknya mati terbunuh, dia berkata bahwa ibu diam-diam memberikan darah mens kepada bos tmp dia menjadi buruh cuci sebagai syarat gaib agar selalu disayang, berkata bahwa saya tidak tau bagaimana sesungguhnya kelakuan ibu saya.
Perempuan itu meneriaki saya perawan tua, tidak beradab dan tak sopan terhadap kerabat. Perempuan yg 20 tahun lalu merebut separuh jiwa saya kini berusaha mejatuhkan saya.
Perempuan yang membuat separuh jiwa saya percaya bahwa hanya anak lelaki yg mampu menuntunnya ke surga, pada kebahagiaan dihari tua, pada pemahaman bahwa anak gadisnya tak akan memperdulikannya. Doktrin yg berhasil membuatnya membatasi lingkup kasihnya.
Saya kenal perempuan itu.. Sangat mengenalnya. Saya tak perlu mempercayai apa yg menjadi fitnahnya. Saya percaya ibu saya. Ibu yg mengajarkan saya untuk tak mendendam. Dia yg mengajarkan saya untuk jgn pernah membenci separuh jiwa saya. Ibu saya tak sepicik pikirannya.
Dia mencaci, saya balas memaki. Amarah saya tak terbendung lagi. 20 tahun ini saya berkompromi. Tapi jika perlakuannya begini, saya rela kelaparan dan mati ketimbang harus tinggal disini. Ambil separuh jiwa saya. Kalian bebas memilikinya. Toh saya hanya bernilai dari berapa jumlah uang yg saya terima hasil dari saya bekerja. Saya punya keluarga, meski cuma ibu saya. Dia harta yg paling berharga, yg senantiasa mendoakan dan menguatkan saya.
Semoga kami selalu dalam lindunganNya.
